Selasa, 08 Januari 2013

Laporan Pendahuluan Ensefalitis


LAPORAN PENDAHULUAN
ENCEPHALITIS
A.    Pengertian
            Encephalitis adalah infeksi jaringan atas oleh berbagai macam mikroorganisme (Ilmu Kesehatan Anak, 2006).
            Encephalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang non-purulen (+) (Pedoman diagnosis dan terapi, 2002).
            Encephalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh bakteri cacing, protozoa, jamur, ricketsia atau virus (Kapita selekta kedokteran jilid 2, 2000).
B.     Etiologi
a.       Mikroorganisme : bakteri, protozoa, cacing, jamur, spirokaeta dan virus.
Macam-macam Encephalitis virus menurut Robin :
1. Infeksi virus yang bersifat epidermik :
a)      Golongan enterovirus = Poliomyelitis, virus coxsackie, virus ECHO.
b)      Golongan virus ARBO = Western equire encephalitis, St. louis encephalitis,      Eastern equire encephalitis, Japanese B. encephalitis, Murray valley encephalitis.
   2. Infeksi virus yang bersifat sporadic : rabies, herpes simplek, herpes zoster,   limfogranuloma, mumps, limphotic, choriomeningitis dan jenis lain yang dianggap disebabkan oleh virus tetapi belum jelas.
      3. Encephalitis pasca infeksio, pasca morbili, pasca varisela, pasca rubella, pasca vaksinia, pasca mononucleosis, infeksious dan jenis-jenis yang mengikuti infeksi traktus respiratorius yang tidak spesifik.  
   
C.    Patofisilogi
            Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke         dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:
a.       Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.
b.      Penyebaran hematogen primer:virus masuk ke dalam darah Kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
c.       Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di Permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf. Masa Prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremintas dan pucat . Gejala lain berupa gelisah, iritabel, perubahan perilaku, gamgguan kesadaran, kejang. Kadang-kadang disertai tanda Neurologis tokal berupa Afasia, Hemifaresis, Hemiplegia, Ataksia, Paralisis syaraf otak.
D.    Tanda dan Gejala
1. Demam.
2. Sakit kepala dan biasanya pada bayi disertai jeritan.
3. Pusing.
4. Muntah.
5. Nyeri tenggorokan.
6. Malaise.
7. Nyeri ekstrimitas.
8. Pucat.
9. Halusinasi.
10. Kaku kuduk.
11. Kejang.
12. Gelisah.
13. Iritable.
14. Gangguan kesadaran.

E.     Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan cairan serebrospinal.
Warna dan jernih terdapat pleocytosis berkisar antara 50-200 sel dengan dominasi sel limfosit. Protein agak meningkat sedangkan glucose dalam batas normal.
2. Pemeriksaan EEG.
Memperlihatkan proses inflamasi yang difuse “bilateral” dengan aktivitas rendah.
3. Pemeriksaan virus.
Ditemukan virus pada CNS didapatkan kenaikan titer antibody yang spesifik terhadap virus penyebab.
F.    Penatalaksanaan
1). Pengobatan penyebab :
Diberikan apabila jenis virus diketahui Herpes encephalitis : Adenosine arabinose 15 mg/Kg BB/hari selama 5 hari.
2). Pengobatan suportif.
Sebagian besar pengobatan encephalitis adalah : pengobatan nonspesifik yang bertujuan mempertahankan fungsi organ tubuh.
Pengobatan tersebut antara lain :
- ABC (Airway breathing, circulation) harus dipertahankan sebaik-baiknya.
- Pemberian makan secara adequate baik secara internal maupun parenteral dengan memperhatikan jumlah kalori, protein, keseimbangan cairan elektrolit dan vitamin.
- Obat-obatan yang lain apabila diperlukan agar keadaan umum penderita tidak bertambah jelek.
G.     Komplikasi
Dapat terjadi :
     - Akut :
§   Edema otak.
§   SIADH.
§   Status konvulsi.
   - Kronik :
§  Cerebral palsy.
§  Epilepsy.
§  Gangguan visus dan pendengaran.
H.    Diagnosa banding
Meningitis TB, Sidrom reye, Abses otak, Tumor otak, Encefalopati
 KONSEP KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
Data-data yang di identifikasikan masalah kesehatan yang dihadapi penderita, meliputi :
a. Biodata.
   Merupakan identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, alamat, tanggal masuk rumah sakit, nomor register, tanggal pengkajian dan diagnosa medis.
Identitas ini digunakan untuk membedakan klien satu dengan yang lain. Jenis kelamin, umur dan alamat dan kotor dapat mempercepat atau memperberat keadaan penyakit infeksi.
b. Keluhan utama.
   Merupakan kebutuhan yang mendorong penderita untuk masuk RS. keluhan utama pada penderita encephalitis yaitu sakit kepala, kaku kuduk, gangguan kesadaran, demam dan kejang.
c. Riwayat penyakit sekarang.
   Merupakan riwayat klien saat ini yang meliputi keluhan, sifat dan hebatnya keluhan, mulai timbul atau kekambuhan dari penyakit yang pernah dialami sebelumnya. Biasanya pada masa prodromal berlangsung antara 1-4 hari ditandai dengan demam,s akit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstrimitas dan pucat. Kemudian diikuti tanda ensefalitis yang berat ringannya tergantung dari distribusi dan luas lesi pada neuron. Gejala terebut berupa gelisah, irritable, screaning attack, perubahan perilaku, gangguan kesadaran dan kejang kadang-kadang disertai tanda neurologis fokal berupa afasia, hemiparesis, hemiplegia, ataksia dan paralisi saraf otak.
d. Riwayat kehamilan dan kelahiran.
   Dalam hal ini yang dikaji meliputi riwayat prenatal, natal dan post natal.
Dalam riwayat prenatal perlu diketahui penyakit apa saja yang pernah diderita oleh ibu terutama penyakit infeksi. Riwayat natal perlu diketahui apakah bayi lahi rdalam usia kehamilan aterm atau tidak karena mempengaruhi system kekebalan terhadap penyakit pada anak. Trauma persalinan juga mempengaruhi timbulnya penyakit contohnya aspirasi ketuban untuk anak. Riwayat post natal diperlukan untuk mengetahui keadaan anak setelah lahir.
Contoh : BBLR, apgar score, yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.
e. Riwayat penyakit yang lalu.
   Kontak atau hubungan dengan kasus-kasus meningitis akan meningkatkan kemungkinan terjdinya peradangan atau infeksi pada jaringan otak (J.G. Chusid, 1993). Imunisasi perlu dikaji untuk mengetahui bagaimana kekebalan tubuh anak. Alergi pada anak perlu diketahui untuk dihindarkan karena dapat memperburuk keadaan.
f. Riwayat kesehatan keluarga.
   Merupakan gambaran kesehatan keluarga, apakah ada kaitannya dengan penyakit yang dideritanya. Pada keadaan ini status kesehatan keluarga perlu diketahui, apakah ada
anggota keluarga yang menderita penyakit menular yang ada hubungannya dengan penyakit yang dialami oleh klien (Soemarno marram, 1983).
g. Riwayat social.
   Lingkungan dan keluarga anak sangat mendukung terhdap pertumbuhan dan perkembangan anak. Perjalanan klinik dari penyakit sehingga mengganggu status mental, perilaku dan kepribadian. Perawat dituntut mengkaji status klien ataukeluarga agar dapat memprioritaskan maslaah keperawatnnya.(Ignatavicius dan Bayne, 1991).

h. Kebutuhan dasar (aktfitas sehari-hari).
   Pada penderita ensepalitis sering terjadi gangguan pada kebiasaan sehari-hari antara lain : gangguan pemenuahan kebutuhan nutrisi karena mual muntah, hipermetabolik akibat proses infeksi dan peningkatan tekanan intrakranial. Pola istirahat pada penderita sering kejang, hal ini sangat mempengaruhi penderita. Pola kebersihan diri harus dilakukan di atas tempat tidur karena penderita lemah atau tidak sadar dan cenderung tergantung pada orang lain perilaku bermain perlu diketahui jika ada perubahan untuk mengetahui akibat hospitalisasi pada anak.
i. Pemeriksaan fisik.
   Pada klien ensephalistis pemeriksaan fisik lebih difokuskan pad apemeriksaan neurologis. Ruang lingkup pengkajian fisik keperawatan secara umum meliputi :
1. Keadaan umum.
          Penderita biasanya keadaan umumnya lemah karena mengalami perubahan atau penurunan tingkat kesadaran. Gangguan tingkat kesadaran dapat disebabkan oleh gangguan metabolisme dan difusi serebral yang berkaitan dengan kegagalan neural akibat prosses peradangan otak.
2. Gangguan system pernafasan.
          Perubahan-perubahan akibat peningkatan tekanan intra cranial menyebabakan kompresi pada batang otak yang menyebabkan pernafasan tidak teratur. Apabila tekanan intrakranial sampai pada batas fatal akan terjadi paralisa otot pernafasan (F. Sri Susilaningsih, 2004).
3. Gangguan system kardiovaskuler.
          Adanya kompresi pada pusat vasomotor menyebabkan terjadi iskemik pada daerah tersebut, hal ini akan merangsaang vasokonstriktor dan menyebabkan tekanan darah meningkat. Tekanan pada pusat vasomotor menyebabkan meningkatnya transmitter rangsang parasimpatis ke jantung.
4. Gangguan system gastrointestinal.
Penderita akan merasa mual dan muntah karena peningkatan tekanan intrakranial yang menstimulasi hipotalamus anterior dan nervus vagus sehingga meningkatkan sekresi asam lambung. Dapat pula terjd diare akibat terjadi peradangan sehingga terjadi hipermetabolisme (F. Sri Susilanigsih, 2004).
j. Pertumbuhan dan perkembangan.
   Pada setiap anak yang mengalami penyakit yang sifatnya kronuis atau mengalami hospitalisasi yang lama, kemungkinan terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan sangat besar. Hal ini disebabkan pada keadaan sakit fungsi tubuh menurun termasuk fungsi social anak. Tahun-tahun pertama pada anak merupakan “tahun emas” untuk kehidupannya. Gangguan atau keterlambatan yang terjadi saat ini harus diatasi untuk mencapai tugas –tugas pertumbuhan selanjutnya. Pengkajian pertumbuhna dan perkembangan anak ini menjadi penting sebagai langkah awal penanganan dan antisipasi. Pengkajian dapat dilakukan dengan menggunakan format DDST.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa I: Potensial terjadi peningkatan tekanan intra cranial sehubungan  dengan vasodilatasi pembuluh darah otak akibat proses peradangan jaringan.
Tujuan     : Setelah dilakukan tindakan keperawatan peningkatan tekanan  intra cranial tidak terjadi yang ditandai dengan = Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intra cranial seperti peningkatan tekanan darah, denyut nadi lambat, pernafasan dalam dan lambat, hiperthermia, pupil melebar, anisokor, refleks terhadap cahaya negatif, tingkat kesadaran menurun.
Intervensi
Rasional

1.      Kaji ulang status neurologis yang berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK, terutama GCS.

2.    Monitor TTV : tekanan darah, denyut nadi, respirasi, suhu minimal satu jam sampai keadaan klien stabil.

3.    naikkan kepala dengan sudut 15-45 derajat (tidak hiperekstensi dan fleksi) dan posisi netral (dari kepala hingga daerah lumbal dalam garis lurus).







4.      Monitor intake dan output cairan tiap 8 jam sekali.


5.      Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat anti edema seperti manitol, gliserol, dan lasix.
6.      Berikan oksigen sesuai program dengan saluran pernafasan yang lancar.


1.      Peningkatan TIK dapat diketahui secara dini untuk menentukan tindakan selanjutnya.
2.      Peningkatan TIK dapat diketahui secara dini untuk menentukan tindakan selanjutnya.

3.      Dengan posisi tersebut maka akan meningkatan dan melancarkan aliran balik vena darah sehingga mengurangi kongesti serebrum, edema dan mencegah terjadi penigkatan TIK. Posisi netral tanpa hiper ekstensi dan fleksi dapat mencegah penekanan pada saraf spinalis yang menambah peningkatan TIK.

4.      Tindakan ini mencegah kelebihan cairan yang dapat menambah edema serebri

5.      Obat-oabatan tersebut dapat menarik cairan untuk mengurangi edema otak.

6.      Mengurangi hipoksemia dapat meningkatan vasodilatasi serebri, volume darah dan TIK.

Diagnosa II : Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum
Tujuan         : Tidak terjadi trauma
Kriteria hasil   : Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain

Intervensi
Rasional
1.      Berikan pengamanan pada pasien dengan memberi bantalan,penghalang tempat tidur tetapn terpasang dan berikan pengganjal pada mulut, jalan nafas tetap bebas
2.      Pertahankan tirah baring dalam fase akut
3.      KolaborasiBerikan obat sesuai indikasi seperti delantin, valum dsb
4.      Abservasi tanda-tanda vital

1.      Melindungi px jika terjadi kejang , pengganjal mulut agak lidah tidak tergigit



2.      Menurunkan resiko terjatuh / trauma saat terjadi vertigo
3.      Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang
4.      Deteksi diri terjadi kejang agak dapat dilakukan tindakan lanjutan

 Diagnosa III : Tidak efektifnya jalan nafas sehubungan dengan penumpukan secret pada jalan nafas.
   Tujuan : Setelah dilakuakan tindakan keperawatan jalan nafas bisa efektif, oksigenasi adequate yang ditandai dengan : Frekwensi pernafasan 20-24 X/menit, irama teratur, bunyi nafas normal, tidak ada stridor, ronchi, whezzing, tidak ada pernafasan cuping hidung pergerakan dada simetris, tidak ada retraksi.

Intervensi
Rasional

1.      Kaji ulang kecepatan kedalaman, frekwensi, irama dan bunyi nafas.



2.      Atur posisi klien dengan posisi semi fowler.



3.      Lakukan fisioterapi dada.




4.      Lakukan penghisapan lendir dengan hati-hati selama 10-15 detik. Catat sifat, warna dan bau secret.



5.      Observasi TTV terutama frekwensi pernafasan.



6.      Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi oksigen, monitor ketepatan terapi dan komplikasi yang mungkin timbul.



1.      Perubahan yang terjadi berguna dalam menunjukkan adanya komplikasi pulmunal dan luasnya bagian otak yang terkena.

2.      Dengan posisi tersebut maka akan mengurangi isi perut terhadap diafragma, sehingga ekspansi paru tidak terganggu.

3.      Dengan fisioterapi dada diharapkan secret dapat didirontokkan ke jalan nafas besar dan bisa di keluarkan.

4.      Dengan dilakukannya penghisapan secret maka jalan nafas akan bersih dan akumulasi secret bisa dicegah sehingga pernafasan bisa lancar dan efektif.

5.      TTV merupakan gambaran perkembangan klien sebagai pertimbangan dilakukannya tindakan berikutnya.

6.      Pemberian Oksigen dapat meningkatkan oksigenasi otak. Ketepatan terapi dibutuhkan untuk mencegah terjadinya keracunan oksigen serta iritasi saluran nafas.


Butuh kerja sambilan dirumah dengan penghasilan jutaan  klik disini aja 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar